Mangunharjo–
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Desa Mangunharjo tetap
mempertahankan tradisi kearifan lokal yang telah diwariskan secara
turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi "Grubyukan," sebuah
bentuk kebersamaan dalam mengantarkan pengantin ke rumah pasangannya yang
menjadi simbol kuatnya solidaritas warga desa.
Grubyukan merupakan tradisi di mana warga secara
bersama-sama mengantarkan pengantin pria menuju rumah mempelai wanita atau
sebaliknya. Tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki beramai-ramai, sering
kali diiringi dengan iringan musik tradisional atau doa bersama. Tak hanya
sekadar mengantar, Grubyukan juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat
hubungan sosial antarwarga.
Menurut Karyadi, selaku Kepala Desa Mangunharjo,
Grubyukan bukan sekadar prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan
nilai-nilai luhur kebersamaan yang semakin jarang ditemukan di daerah
perkotaan. "Dengan adanya Grubyukan, kami berharap masyarakat tetap
menjaga tradisi dan kebersamaan. Ini adalah bagian dari identitas budaya yang
harus dilestarikan," ujarnya.
Salah satu warga, Bapak Sukiyo, menuturkan bahwa
Grubyukan telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil. "Dulu,
ketika saya masih anak-anak, saya sering melihat orang tua dan tetangga
mengikuti Grubyukan. Sekarang, saya pun ikut serta dalam tradisi ini untuk
menjaga warisan budaya desa kami," ungkapnya.
Selain mempererat hubungan antarwarga, Grubyukan juga
menjadi simbol gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat. Tradisi ini
menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan di era modern seperti
sekarang.
Dengan terus dilestarikannya Grubyukan, Desa
Mangunharjo menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya,
tetapi juga menjadi fondasi yang memperkuat persatuan dan identitas
masyarakatnya.**

